TUGAS
PRAKARYA dan KEWIRAUSAHAAN
MENGENAL
TANAMAN TOGA ( TEMULAWAK )
Kelompok 2
Nama anggota
: 1. Arini Risky Nursifa (04)
2. Arya Raqli Purmalastu (05)
3. Honesty Adila (16)
4. Rafika Siwi Pandhadha (25)
Ciri-ciri dari tanaman temulawak ini adalah :
- Tanaman
ini merupakan tanaman tahunan.
- Mempunyai
tinggi hingga 250 cm.
- Daun lebar
memanjang atau seperti daun pisang.
- Pada
seluruh batangnya ditutupi oleh pelepah daun.
- Akan muncul
bunga dari samping batang, dan mahkota bunga berwarna merah.
- Mempunyai
rimpang utama yang besar dan bulat.
- Pada
bagian luar rimpang berwarna kuning agak tua.
- Pada
bagian dalam rimpang berwarna jingga agak coklat.
- Memiliki
rimpang-rimpang yang kecil dari bagian rimpang induknya.
- Memiliki
bau yang tajam, rasanya pahit dan pedas.
- Pada
akarnya ada gelembung yang berbentuk umbi kecil.
Cara Budidaya Tanaman Temulawak
1. Pembibitan
Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpangrimpangnya baik
berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang).
Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000
kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700
kg/ha.
1) Persyaratan Bibit
Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 -12
bulan.
2) Penyiapan Bibit
Tanaman induk dibongkar dan bersihkan akar dan tanah yang menempel pada
rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.
a. Bibit rimpang induk
Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas
dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut. Setelah itu rimpang
dapat langsung ditanam.
b. Bibit rimpang anak
Simpan rimpang anak yang baru diambil di tempat lembab dan gelap selama 1-2
bulan sampai keluar tunas baru. Penyiapan bibit dapat pula dilakukan dengan
menimbun rimpang di dalam tanah pada tempat teduh, meyiraminya dengan air
bersih setiap pagi/sore hari sampai keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas
segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap
ditanam. Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang
anakan. Sebaiknya bibit disiapkan sesaat sebelum tanam agar mutu bibit tidak
berkurang akibat penyimpanan.
2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan Lahan
Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan.
Penyiapan lahan untuk kebun temulawak sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum
tanam.
2) Pembukaan Lahan
Lahan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat mengganggu
pertumbuhan kunyit. Lahan dicangkul sedalam 30 cm sampai tanah menjadi gembur.
3) Pembentukan Bedengan
Lahan dibuat bedengan selebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar
bedengan 30-40 cm. Selain dalam bentuk bedengan, lahan dapat juga dibentuk
menjadi petakan-petakan agak luas yang dikelilingi parit
pemasukkan dan pembuangan air, khususnya jika temulawak akan ditanam di
musim hujan.
4) Pemupukan Organik (sebelum tanam)
Pupuk kandang matang dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2 kg.
Keperluan pupuk kandang untuk satu hektar kebun adalah 20-25 to karena pada
satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman.
3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada awal
musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu. Fase
awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan banyak air.
2) Pembutan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30
cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.
3) Cara Penanaman
Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas
menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm.
4) Perioda Tanam
Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen musim
kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini memungkinkan untuk
suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang memang sangat membutuhkan air di
awal pertumbuhannya.
4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan bibit
cadangan.
2) Penyiangan
Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas
bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan dan air.
Peyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat
bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan
dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah kerusakan
akar, rumput liar disiangi dengan bantuan kored/cangkul dengan hati-hati.
3) Pembubunan
Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpang rimpangan untuk
memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembubunan dilakukan dengan
menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air. Pembubunan
dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan.
4) Pemupukan
a. Pemupukan Organik
Pada pertanian organic yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk
buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organic yaitu dengan menggunakan
pupuk kompos organic atau pupuk
kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk
buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini dilakukan pada awal
pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk
dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah
olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan
jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal
pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya
dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis
pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini
biasanya dilakukan setelah kegiata penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan
pembubunan.
b. Pemupukan Konvensional
- Pemupukan Awal
Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang
disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman atau dimasukkan
ke dalam lubang sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam.
Larikan atau lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah
pemupuka tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.
- Pemupukan Susulan
Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak
0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan
kembali pada waktu umur tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan
dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan merata di
dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan
tanah.
5) Pengairan dan Penyiraman
Pengairan dilakukan secara rutin pada pagi/sore hari ketika tanaman masih
berada pada masa pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya ditentukan oleh
kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih banyak dilakukan pada
musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan tetap baik, tanah tidak boleh berada
dalam keadaan kering.
6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama
penyakit.
7) Pemulsaan
Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk
menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak
gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami
dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.
Manfaat Tanaman
Temulawak
Inilah beberapa manfaat temulawak
yang bisa digunakan:
1.
Memelihara Fungsi Hati
Salah satu manfaat temulawak yang
sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia adalah untuk menjaga fungsi hati.
Ini karena temulawak mengandung katagoga yang memproduksi empedu dalam hati
serta merangsang pengosongan empedu.
Sejumlah uji klinik terhadap
temulawak menemukan bahwa temulawak ternyata memberikan enzim yang dapat
menurunkan kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum
Glutamic Pyruvate Tranaminase). SGOT dan SGPT sendiri merupakan enzim yang
terdapat dalam sel hati dan jumlahnya akan meningkat jika terjadi kerusakan.
Seperti dilansir Farmacia, sekitar
38 pasien yang menderita gangguan hati dan memiliki nilai SGOT dan SGPT di atas
normal diberikan obat yang mengandung 25 miligram kurkuma atau temulawak, serta
beberapa elemen lainnya. Hasilnya, ternyata pasien mengalami penurunan nilai
SGOT dan SGPT yang cukup signifikan.
2.
Mengurangi Radang Sendi
Temulawak memiliki kandungan kurkumin
sekitar 100 mg fenibutazon yang dapat mengurangi radang sendi pada tubuh Anda.
Kurkumin ini nantinya akan menghambat perpindahan sel-sel leuksit ke daerah
radang atau menghambat pembentukan dan transportasi mediator radang yang
disebut prostaglandin.
Temulawak sudah lama digunakan
sebagai obat alami pereda radang sendi di India. Menurut sebuah studi yang
diterbitkan pada 2009 lalu, pasien radang sendi lutut yang mengonsumsi sari
temulawak dan ibuprofen setiap hari selama 6 minggu berhasil mengurangi rasa
sakit akibat radang atau arthritis tanpa efek samping yang berarti.
3. Melawan
Penyakit Kanker
Selain mengobati kerusakan pada
hati, temulawak juga memiliki khasiat melawan penyakit
kanker yang menjadi momok banyak orang. Berdasarkan sebuah
studi yang diterbitkan pada 2001 silam, curcumin diketahui mampu menghambat
pertumbuhan kanker prostat secara signifikan sekaligus berpotensi mencegah
perkembangan kanker hormone lainnya.
Sementara itu, University of
Maryland Medical Center memaparkan jika tanaman herbal, terutama temulawak,
dapat menghentikan pertumbuhan pembuluh darah yang membantu pertumbuhan kanker.
Meskipun dokter masih harus
melakukan percobaan lebih lanjut, namun secara umum temulawak direkomendasikan
untuk pasien penderita kanker.
4. Menurunkan Lemak Darah
Fraksi kurkuminoid atau ekstrak
temulawak memiliki khasiat kesehatan lain yang dapat membantu menurunkan
kadar kolesterol total. Khasiat
temulawak menurunkan kolesterol atau lemak darah tentu saja juga berdampak baik untuk
kesehatan jantung serta sistem kardiovaskuler dalam tubuh.
5. Mengatasi
Masalah Pencernaan
Manfaat temulawak yang lain adalah
melancarkan proses pencernaan. Kandungan zat dalam temulawak diketahui mampu
merangsang produksi empedu yang dapat membantu meningkatkan pencernaan. Tak
ayal, temulawak mampu membantu penderita yang mengalami berbagai gangguan
pencernaan, termasuk kembung, gas dan dyspepsia.
6.
Melancarkan ASI
Bagi ibu menyusui, mengonsumsi
temulawak ternyata dapat meningkatkan serta melancarkan produksi ASI. Temulawak
memiliki kandungan antioksidan yang tinggi sehingga berguna untuk mencegah
terjadinya perubahan atau oksidasi nutrisi yang diperlukan untuk memproduksi
ASI seperti protein dan asam lemak. Jika terjadi oksidasi nutrisi, maka
produksi ASI pada ibu akan berkurang. Bukan itu saja, kualitas ASI juga dapat
menurun.
Produk yang dihasilkan
dari temulawak
|
Bagian yang dimanfaatkan
|
Hasil olahan
|
Pengguna
|
|
Kulit
|
Kulit
|
industri pupuk
|
|
Daging
|
Simplisia rimpang
|
Industri obat tradisional
|
|
|
Pati
|
Industry makanan
|
|
|
Oleoresin
|
Industri farmasi makanan
|
|
|
Zat warna
|
Industri makanan, tekstil, farmasi
|
|
|
Minuman berkarbonat (limun) , minuman
nonberkarbonat sirop dan bir
|
Rumah tangga dan industri minuman
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar